Mintalah, maka ada kemungkinan akan menerima / diberi. Bukan: berikanlah (terutama saran) pada yang tidak meminta (unsolicited).
Kita perlu menulis apa yang kita suka, tidak harus yang orang lain suka. Asalkan dipost di media sosial milik sendiri, multiple topic/niche sepertinya bukan masalah besar. Kombinasikan antara menarik dan berguna.
“Nature is more imaginative than we are. We often miss new knowledge because we do not imagine the full richness of the unknown.” (Avi Loeb)
Bagi yang masih (mengaku) belajar, perlu ulang-ulang materi dan praktik biar makin paham, tidak mudah lupa, atau bisa temukan hal baru. Untuk yang memang mau membuat personal branding, mulai saja dulu dengan kuantitas tinggi. Sambil jalan terima feedback, buang yang buruk, kembangkan yang baik.
“Better is possible. It does not take genius. It takes moral clarity. It takes diligence. It takes a willingness to try.” (Atul Gawande)
Belajar harus berat, meskipun menyenangkan. Otak harus diminta kerja, jangan diotomatiskan atau dioutsourcingkan terus (ke AI, dll), agar apa yang dipelajari (pengetahuan/keterampilan) bisa melekat.
Prokrastinasi itu bukan ‘malas’. Ia lebih mirip ke ‘takut’ atau ‘terpaksa’ atau ‘tidak nyaman’. Kalau yang mageran, mungkin cocoknya istilah dysania: having difficulty getting out of bed in the morning.
Ketika akhir pekan tiba, jika ada waktu lowong pakailah belajar, untuk upgrade diri. Ikut seminar, tambah-tambah sertifikasi. Bisa juga kontak kawan lama dengan sopan, mana tahu ada lowongan pekerjaan atau proyek sampingan. Mulailah berani jual keahlianmu. Minimal, tunjukkan agar orang lain tahu dulu.
“Almost all papers are trying to advertise themselves. Getting to the truth is not easy.” (Mason Wang)
Nata laku, niti mangsa. Tidak usah jumawa. Mulai dengan berdoa, lalu lakukan apa yang benar. Melangkah dengan perencanaan yang baik, memperhatikan kondisi kini, dan fleksibel sambil jalan aja dulu. Mari upayakan hidup nyaman dan banyak uang itu.