Pilihan kopimu mungkin tak akan bisa mengubah dunia. Ia hanya bisa mengubah kimia otakmu, semoga membantumu menjadi pribadi yang bisa menjalani hari ini dengan baik.
Kadang, 24 jam terasa kurang dalam sehari, kalau kita pakai hitungan normal. Kadang, hari terasa panjang, serasa bisa lebih dari 25 jam, ketika begadang melewati tengah malam.
Belum tentu orang yang terpaksa lembur adalah orang yang malas atau tak mampu mengelola waktu kerja dengan baik. Omong kosong jika ada yang menyarankan untuk terus memaksa diri mengerjakan sesuatu sepanjang waktu demi meraih ketahanan diri secara profesional.
Motivator songong bilang kita harus lebih disiplin. Tapi siapa yang bisa disiplin kalau hidupnya selalu dihantam ketidakpastian? Ada waktunya kita wajib menghargai ketidakteraturan. Dan kadang, justru dari kekacauan itu kita belajar bertumbuh tanpa peta.
Kita masih manusia, yang konon adalah tempatnya salah dan bisa sering merasa kurang bermakna. Kita sangat rentan menipu diri sendiri, atau sekadar kelewat jumawa. Ketidaktelitian pasti pernah memberikan buah yang asam dalam hidup kita. Berbahagialah setiap mereka yang masih merindukan kebaikan, bertumbuh dan berkembang, berharap, dan berupaya menjalani hari dengan baik.
Setiap waktu, konon, tak akan terulang. Entah benar demikian, entah jika hanya kiasan. Kadang waktu terasa lama, kadang saking singkatnya hanya seperti kejapan. Ah, entah. Mungkin memang 25 jam sehari bukanlah waktu yang cukup panjang.
Tak ada orang yang bisa menjamin hidupnya 75% saja berjalan sesuai rancangan. Yang ada, hidup kita 100% berada dalam rancangan Tuhan. Masalahnya, kita bukan Tuhan. Tidak bisa tahu apa saja yang ada dalam detik-detik kelanjutan hidup kita. Kita sering merasa tahu arah, yakin banget kadang. Padahal, bisa jadi kita cuma sedang menebak sambil jalan.
Tak ada keharusan untuk mempelajari segala sesuatu. Tak elok pula jika hidupmu selalu positif. Hidup apa pula itu? Jalani saja lanjutan hidupmu. Sulit untuk tidak menyesali yang sudah terjadi. Toh, dunia ini memang banyak hal buruknya.
Kebahagiaan adalah hal langka dalam hidup manusia. Sampai harus dicari dan dibuat. Sampai butuh banyak saran dan aturan untuk mencapainya. Atau tidak. Atau karena didefinisikan, jadi tampak rumit. Padahal mungkin hanya perlu dijalani dan dinikmati, tanpa perlu dipikirkan atau dinamai.
Kesalahan bukan akhir dari segalanya. Tapi kadang, atau sering kali, kita dipaksa menganggapnya begitu.
Ambil gelasmu. Isi dengan kopi pahit, jika masih ada waktu.
Pilihan pakaianmu, yang menurutmu nyaman dan bisa membantumu produktif, juga bisa saja gagal menemanimu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
Kalau hari ini terasa terlalu cepat, tak apa. Kalau terasa terlalu lambat pun, tak apa. Waktu bukan musuh, dia hanyalah infrastruktur kehidupan.
Kebahagiaan itu bukan hasil, tapi perasaan. Kadang muncul, kadang pergi. Sering kali tanpa alasan.
Mungkin hidup memang tidak harus selalu dimengerti. Cukup dijalani, dan sesekali dihargai. Selalu OK untuk memulai kembali, dari nol, bahkan mungkin mulai dari minus. Produktiflah. Lanjutkan hidupmu. Kolaborasilah dengan berbagai macam orang, pertahankan yang cocok dan sama-sama berkembang.
Jadi, minumlah kopimu. Nikmati pahitnya. Mungkin itu satu-satunya hal ketika prediksimu tepat semua.