Dunia saat ini begitu menyatu dengan uang. Semua barang dan jasa memiliki harga. Manusia pun dikategorikan berdasarkan realita dan potensinya dalam menghasilkan uang. Sehingga saya heran ketika ada orang yang komplain mengapa karyawan dianggap sebagai ‘barang’, ketika saya pakai ‘user’ sebagai sebutan untuk tim yang akan merekrut karyawan baru tersebut. User di sini padahal translate-an sederhana yang menunjukkan mereka sebagai pengguna jasa.
Apa pun pekerjaan kita (apakah menghasilkan barang maupun jasa) semuanya mengantarkan kita menjadi seorang produsen. Maka, buatlah sesuatu yang bermanfaat. Make useful things. Make big things. Teruslah mengasah keterampilan agar kita bisa menjadi produsen yang produktif, kreatif, dan inovatif.
Tidak ada yang mudah dalam hidup ini. Apa pun kondisimu saat ini, hadapi dan hidupi itu. Kita tidak harus menunggu keadaan menjadi “enak” dulu untuk mulai bersyukur dan terus berjuang. Ada banyak medium untuk berkarya, dan platform untuk menampilkan karya pun tersedia. Jika kamu punya karya, bagikan saja. Tidak perlu menunggu disukai orang lain. Ijinkan orang yang tepat (para fans atau audiensmu, atau as simple as calon atasanmu) menemukan produk atau layananmu.
Coba berbagai peluang baru. Ciptakan peluang. Mungkin dari sanalah status sosialmu bisa meningkat. Kalau produkmu adalah informasi, bagikan informasi tersebut secara benar, baik itu kabar baik maupun buruk. Bahkan informasi yang menurutmu biasa saja bisa menjadi bantuan luar biasa bagi seseorang, bahkan bisa menyelamatkan nyawa dan memperbaiki hidup mereka.
It’s always OK to restart, even start way smaller. Jadilah penasaran, kreatif, dan temukan celah. Fill the gap. Make it into big money! Tapi ingat, jangan tipu diri sendiri, apalagi orang lain. Build something useful, the real useful thing. Biarkan dunia mengenalmu sebagai pribadi yang membantu, dan produkmu sebagai sesuatu yang bermanfaat.
Miliki fondasi yang kuat—tidak harus besar atau luas, tapi kokoh. Belajarlah lagi, sambil terus berkarya. Cari teman yang bisa memberi umpan balik jujur. Atau, jika perlu, bayar profesional di bidangnya untuk membantumu melewati beberapa langkah awal yang belum kamu kuasai.
Dalam kondisi apa pun, tidak perlu memamerkan penghasilan atau pekerjaanmu ke publik. Kalau pun ada yang salah memahami atau tidak menanyakannya langsung padamu, biarkan saja. Yang penting, pastikan pasangan dan anakmu bisa menjelaskan dengan ringkas dan benar tentang apa yang kamu lakukan untuk menghidupi keluarga, jika ada yang bertanya.
Dunia saat ini begitu menyatu dengan uang. Semua barang dan jasa memiliki harga. Standar kekayaan diukur dengan uang. Manusia pun dikategorikan berdasarkan realita dan potensinya dalam menghasilkan uang. Bahkan kegiatan keagamaan pun membutuhkan uang.
Uang bisa membuat banyak orang sedih, kecewa, marah, bahkan tersiksa. Tidak punya uang, atau punya uang tapi takut akan kehabisan di masa depan karena pemasukan yang tak pasti, itu semua bisa membuat orang overthinking, stres, hingga depresi. Wajar. Manusiawi.
Maka, scaffold your content. Ambil komentar dari konten viralmu, kutip, dan kembangkan. Bantu dirimu tumbuh, sekaligus bantu orang lain tumbuh. Share dan reshare, bisa jadi kini adalah waktu yang tepat.
Duduk. Buka laptopmu. Singkirkan ponselmu sebentar. Kerjakan daftar tugasmu. Carilah uang yang banyak. Fokus. Niatkan untuk bekerja dengan benar dan baik. Cari pekerjaan yang benar, lalu kerjakan dengan benar. Bantu atasan atau klienmu dengan sungguh-sungguh. Jadilah berkat dalam pekerjaanmu, apa pun itu.
Bosan? Tidak apa-apa. Rasa bosan bisa menjadi sumber kreativitas dan inovasi jika dikelola dengan baik. Mungkin para penemu besar di masa lalu adalah orang-orang yang punya banyak waktu, banyak sumber daya, dan… bosan.
Ijinkan sang pemikir dalam dirimu untuk mengajukan hipotesisnya. Yang mungkin beda jauh dengan apa yang dibahas di grup keluarga atau yang riuh menggema di warung kopi dan kedai makanan hangat di pasar, jika masih ada.
Tak usah dicari. Syukuri saja jika ketemu sesuatu yang layak disyukuri. Ada, pasti ada. Tapi tak usah memaksa untuk selalu positif, produktif, bahagia. Sesungguhnya dunia ini malah lebih banyak jeleknya.
Saat kita belajar untuk berserah dan tetap berusaha dengan jujur, masa depan yang lebih baik mungkin masih belum segera terjadi, tetapi kita menjadi tetap sadar bahwa semua adalah dari Sang Pencipta.
Jika ada kesempatan untuk memilih, pilihlah menjadi orang baik.
Ketika sudah saatnya, tata ulang impianmu. Periksa kembali catatanmu. Cek screenshot yang mungkin sudah ribuan di ponselmu. Bangkit, kerjakan apa yang perlu. Tak perlu langsung sampai selesai. Mulai saja dulu.