Ilmu gizi mempelajari makanan, zat gizi, prosesnya di dalam tubuh, serta hubungannya dengan kesehatan dan penyakit. Kesehatan mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial, bukan sekadar tidak adanya penyakit. Gizi yang baik mendukung kesejahteraan dan membantu mencegah penyakit akut maupun kronis. Risiko penyakit dibentuk oleh interaksi pola makan, gaya hidup, dan faktor genetik.
Rasa merupakan faktor utama yang memengaruhi pemilihan makanan. Pengenalan rasa dimulai sejak kehamilan melalui air ketuban dan berlanjut melalui ASI. Anak secara alami lebih menyukai rasa manis dan asin serta cenderung menolak rasa pahit. Makanan baru perlu diperkenalkan berulang, sekitar 5 sampai 15 kali, agar lebih mudah diterima.
Pemilihan pangan juga dipengaruhi iklim, geografi, ekonomi, gaya hidup, budaya, dan agama. Makanan dapat mempunyai makna simbolis yang berkaitan dengan tradisi keluarga, status sosial, kesehatan, dan pengobatan tradisional. Ketersediaan pangan dan kemampuan ekonomi menentukan kualitas konsumsi individu maupun keluarga. Karena itu, masalah gizi tidak hanya disebabkan oleh pilihan pribadi.
Malnutrisi dunia mencakup kekurangan energi-protein, kwashiorkor, marasmus, dan defisiensi zat gizi mikro. Kekurangan yodium dapat menyebabkan kerusakan otak, kekurangan vitamin A dapat menimbulkan kebutaan, dan anemia defisiensi besi menurunkan produktivitas. Diagram menunjukkan bahwa kemiskinan, pertumbuhan penduduk, dan kerusakan lingkungan saling memperkuat terjadinya kelaparan. Di sisi lain, makanan tinggi kalori tetapi rendah zat gizi berkontribusi terhadap kelebihan berat badan dan obesitas.
Beban gizi ganda berarti masalah gizi kurang dan gizi lebih terjadi dalam wilayah, masyarakat, atau rumah tangga yang sama. Kondisi ini menunjukkan bahwa kecukupan energi tidak selalu disertai kecukupan zat gizi. Indonesia perlu menangani kekurangan gizi, defisiensi mikronutrien, dan obesitas secara bersamaan. Pencegahannya memerlukan perbaikan akses pangan, pendidikan gizi, sanitasi, kesehatan, dan kondisi sosial ekonomi.
Kehamilan merupakan masa kritis karena lingkungan dalam kandungan memengaruhi kesehatan jangka panjang anak. Ibu membutuhkan makanan beragam dan cukup zat gizi untuk pertumbuhan janin, sekaligus perlu membatasi paparan nikotin, alkohol, kafein berlebihan, serta mikroorganisme dari makanan. Setelah lahir, pembentukan preferensi dan kebiasaan makan dimulai sejak bayi. Inisiasi menyusu dini dan ASI eksklusif sampai usia enam bulan menjadi dasar pemenuhan gizi awal.
Pada usia 6 sampai 24 bulan, ASI dilanjutkan sampai usia dua tahun dan MP-ASI diberikan mulai enam bulan. Anak usia dini membutuhkan makanan beragam, dukungan pengasuh, pola makan keluarga yang baik, dan aktivitas fisik teratur. Pada remaja, pertumbuhan cepat, perubahan komposisi tubuh, dan pematangan reproduksi meningkatkan kebutuhan zat gizi. Pilihan makan remaja juga kuat dipengaruhi teman sebaya, citra tubuh, media, dan iklan.
Pedoman Gizi Seimbang menggantikan slogan Empat Sehat Lima Sempurna dengan empat prinsip, yaitu pangan beragam, hidup bersih, aktivitas fisik, dan pemantauan berat badan. Masyarakat dianjurkan memperbanyak sayur, buah, dan protein serta membatasi makanan manis, asin, dan berlemak. Sarapan, air putih yang cukup, membaca label pangan, dan mencuci tangan juga perlu dibiasakan. Lansia perlu mengutamakan sumber kalsium dan serat, mempertahankan aktivitas fisik, mencukupi cairan, serta membatasi gula, garam, dan lemak.