Ilmu gizi mempelajari makanan, zat gizi, prosesnya di dalam tubuh, serta hubungan makanan dengan kesehatan dan penyakit. Kesehatan mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial, sehingga gizi menjadi salah satu fondasi penting dalam mencapai kehidupan yang sehat. Pola makan dapat memengaruhi penyakit akut seperti keracunan makanan maupun penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, dan kanker.
Hubungan antara gizi dan kesehatan juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Komponen makanan dapat meningkatkan atau menghambat ekspresi gen, yaitu proses pembentukan protein berdasarkan informasi dalam DNA. Nutrigenomik mempelajari interaksi antara makanan, gen, dan kesehatan, termasuk bagaimana kekurangan folat pada individu dengan mutasi gen tertentu dapat meningkatkan kadar homosistein dan risiko penyakit jantung.
Pemilihan makanan dipengaruhi oleh rasa, lingkungan, ekonomi, budaya, agama, gaya hidup, serta kebiasaan keluarga. Anak-anak umumnya menyukai rasa manis dan asin, tetapi cenderung menolak rasa pahit dan makanan baru. Karena itu, makanan seperti sayuran perlu diperkenalkan berulang kali, sekitar lima sampai lima belas kali, agar lebih mudah diterima.
Masalah gizi dunia mencakup kelaparan, kekurangan energi-protein, kwashiorkor, marasmus, serta kekurangan zat gizi mikro. Kekurangan yodium dapat menyebabkan kerusakan otak, kekurangan vitamin A dapat menyebabkan kebutaan, dan anemia defisiensi besi dapat menurunkan produktivitas. Di sisi lain, konsumsi makanan tinggi kalori tetapi rendah zat gizi dapat menyebabkan kelebihan berat badan dan obesitas.
Indonesia menghadapi beban gizi ganda, yaitu masalah gizi kurang dan gizi lebih yang dapat terjadi dalam satu wilayah atau bahkan satu rumah tangga. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan jumlah makanan, tetapi juga kualitas pangan, akses ekonomi, pendidikan, dan gaya hidup. Penanganannya memerlukan kerja sama antara keluarga, masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah.
Pedoman Gizi Seimbang menggantikan slogan “Empat Sehat Lima Sempurna” dengan menekankan konsumsi makanan beraneka ragam, perilaku hidup bersih, aktivitas fisik, dan pemantauan berat badan. Masyarakat dianjurkan memperbanyak sayur, buah, makanan pokok, dan lauk kaya protein, serta membatasi makanan manis, asin, dan berlemak. Sarapan, minum air putih, membaca label kemasan, mencuci tangan, dan menjaga berat badan juga merupakan kebiasaan penting.
Kebutuhan gizi perlu disesuaikan dengan tahap kehidupan. Ibu hamil dan menyusui memerlukan makanan yang lebih beragam, cukup air, serta pembatasan garam dan kopi, sedangkan bayi dianjurkan memperoleh ASI eksklusif sampai usia enam bulan dan melanjutkan ASI hingga usia dua tahun. Anak-anak perlu dibiasakan makan bersama keluarga, mengonsumsi protein, sayur, buah, dan air putih, serta melakukan aktivitas fisik.
Remaja perlu mengonsumsi makanan beragam, terutama sayuran hijau dan buah-buahan berwarna. Lansia membutuhkan kalsium, serat, air putih, dan aktivitas fisik yang cukup, sambil membatasi gula, garam, dan lemak. Dengan menerapkan prinsip gizi seimbang sesuai usia dan kondisi tubuh, masyarakat dapat meningkatkan kesehatan serta mencegah berbagai penyakit.