Skip to content

Gizi Normal, Atlet, dan Pasien

Kebutuhan gizi berubah sepanjang daur kehidupan. Pada masa bayi dan anak-anak, kebutuhan energi dan protein per kilogram berat badan tinggi, kemudian secara bertahap menurun, sementara kebutuhan vitamin dan mineral tetap harus dipenuhi melalui makanan yang beragam. Pengasuh berperan menyediakan lingkungan makan yang aman, higienis, dan mendukung, sedangkan anak perlu belajar mengatur waktu serta jumlah makannya.

Masalah gizi pada anak meliputi kelaparan, kerawanan pangan, kekurangan berat badan, stunting, kelebihan berat badan, dan obesitas. Minuman berkafein dapat menyebabkan anak gelisah dan mengganggu tidur, sedangkan bukti hubungan gula dengan ADHD belum kuat, walaupun pengawet dan pewarna tertentu masih perlu diperhatikan. Anak juga perlu dilindungi dari toksisitas timbal, karena kekurangan zat besi, kalsium, dan seng dapat meningkatkan penyerapannya.

Masa remaja ditandai oleh pertumbuhan fisik yang cepat, perubahan komposisi tubuh, serta perkembangan psikologis dan emosional. Kebutuhan energi dan protein pada periode ini termasuk yang tertinggi sepanjang hidup, kecuali saat kehamilan dan menyusui. Pilihan makanan remaja sangat dipengaruhi teman sebaya, budaya, kondisi psikologis, citra tubuh, olahraga, risiko obesitas, gangguan makan, serta penggunaan rokok, alkohol, dan narkoba.

Pada usia lanjut, massa lemak cenderung meningkat dan massa otot menurun, sehingga risiko penyakit kronis, penyakit kardiovaskular, dan osteoporosis meningkat. Aktivitas fisik membantu mempertahankan massa otot, mengurangi risiko penyakit, dan mendukung kesehatan mental. Penurunan rasa haus, fungsi pencernaan, kemampuan mengunyah, penciuman, dan pengecapan dapat menyebabkan dehidrasi, konstipasi, kekurangan vitamin B12, serta penurunan asupan makanan.

Lansia membutuhkan makanan padat zat gizi karena kebutuhan energi menurun, sementara kebutuhan vitamin dan mineral relatif tetap. Protein, serat, kalsium, vitamin D, seng, folat, vitamin B6, vitamin B12, serta antioksidan perlu diperhatikan, terutama untuk kesehatan tulang, imunitas, penyembuhan luka, dan perlindungan terhadap stres oksidatif. Interaksi obat dengan zat gizi, depresi, alkohol, gangguan penglihatan, artritis, penyakit Alzheimer, dan masalah gigi juga dapat memperburuk status gizi.

Bagi atlet, gizi yang baik diperlukan untuk membangun dan mempertahankan otot, menjaga kesehatan tulang, mendukung transportasi oksigen, memperbaiki jaringan, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, serta menyediakan energi. Pola makan atlet sebaiknya seimbang dan beragam, dengan karbohidrat sebagai sumber energi utama, protein untuk pemeliharaan dan perbaikan jaringan, serta lemak dalam jumlah yang sesuai. Kekurangan karbohidrat dapat menyebabkan kelelahan, penurunan performa, kehilangan massa otot, kekurangan zat gizi, dan mudah marah.

Makanan sebelum pertandingan sebaiknya kaya karbohidrat, mudah dicerna, dan dikonsumsi dengan mempertimbangkan jarak waktu sebelum latihan atau pertandingan. Setelah berolahraga, atlet perlu segera mengganti cairan dan elektrolit, mengonsumsi karbohidrat dalam 30 menit pertama, lalu menambahkan protein dalam makanan berikutnya. Hidrasi perlu dilakukan sebelum, selama, dan setelah aktivitas, sedangkan tanda dehidrasi antara lain sakit kepala, kelelahan, kebingungan, mual, kram otot, pusing, dan penurunan stamina.

Pada pasien, malnutrisi terjadi ketika asupan gizi tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh. Penyebabnya dapat berupa penurunan asupan makanan, peningkatan kebutuhan energi, atau gangguan penyerapan zat gizi, dan dampaknya meliputi penurunan kekuatan otot, gangguan mobilitas, imunitas yang buruk, infeksi, depresi, serta masa rawat yang lebih panjang. Penanganannya dimulai dengan skrining gizi, pemantauan berat badan, penyusunan rencana bersama tim multidisiplin, dan pemberian makanan yang diperkaya, suplemen oral, nutrisi enteral, atau nutrisi parenteral sesuai kebutuhan, dengan perhatian khusus pada pasien ICU agar tidak terjadi kekurangan maupun kelebihan pemberian nutrisi.

yosephsamodra
Public health researcher, scholarship consultant, and black coffee drinker.