Skip to content

Aspek Biokimia dan Nutrisi pada Hematologi

Hematopoiesis adalah proses pembentukan elemen darah, sedangkan eritropoiesis mengganti sekitar 0,8–1 persen eritrosit setiap hari. Eritrosit memiliki masa hidup rata-rata 100–120 hari. Menurut WHO, anemia ditandai hemoglobin di bawah 13 g/dL pada pria dan 12 g/dL pada wanita. Gejalanya meliputi pucat, kelelahan, pusing, sesak napas, palpitasi, nyeri dada, gangguan konsentrasi, serta akral dingin.

Pembentukan darah memerlukan besi, folat, vitamin B12, B6, B2, C, A, D, E, dan K. Protein dan karbohidrat menyediakan bahan pembentuk jaringan serta energi bagi proses hematopoiesis. Asam lemak esensial, tembaga, seng, kalsium, fosfor, dan magnesium juga mendukung produksi serta fungsi sel darah. Kekurangan satu atau beberapa zat gizi dapat mengganggu pembentukan hemoglobin, pematangan eritrosit, imunitas, dan stabilitas membran sel.

Defisiensi besi merupakan kekurangan mikronutrien yang paling umum dan penyebab utama anemia defisiensi besi pada kehamilan. Prosesnya berkembang dari penurunan cadangan besi, menuju defisiensi fungsional awal, kemudian menjadi anemia. Kebutuhan besi meningkat selama kehamilan akibat pertambahan massa eritrosit, volume plasma, plasenta, dan janin. Defisiensi pada wanita usia subur meningkatkan risiko prematuritas, berat badan lahir rendah, keterlambatan maturasi, serta gangguan motorik dan kognitif anak. Suplementasi besi-folat mingguan dianjurkan pada daerah dengan prevalensi anemia tinggi ketika fortifikasi belum dapat diterapkan.

Hemoglobin sering digunakan untuk skrining populasi, tetapi serum ferritin lebih baik dalam menggambarkan cadangan besi. Besi heme memiliki bioavailabilitas tertinggi, diikuti Fe²⁺ dan Fe³⁺. Vitamin C, sitrat, asam amino, dan kondisi kekurangan besi meningkatkan absorpsi, sedangkan fitat, tanin, teh, kopi, cokelat, serta produk kedelai menghambatnya. Sumber besi meliputi hati, daging merah, ikan, tiram, kuning telur, kacang-kacangan, buah kering, dan sereal fortifikasi. Terapi dapat diberikan sebagai fero sulfat, fumarat, atau glukonat secara oral maupun preparat intravena pada kondisi tertentu.

Suplementasi besi perlu diberikan berdasarkan kebutuhan karena kelebihan besi dapat memicu stres oksidatif dan hemokonsentrasi. Pada anemia penyakit kronis, hemoglobin biasanya rendah tetapi serum ferritin dapat tetap normal. Pemberian besi tanpa evaluasi dapat meningkatkan risiko penumpukan besi, sehingga suplementasi dan konsumsi besi heme perlu dibatasi. Pendekatan makan dapat menekankan biji-bijian, buah, sayuran, keju, dan produk susu sesuai kondisi pasien.

Folat diperlukan untuk sintesis DNA dan pematangan eritrosit, sedangkan kekurangannya menyebabkan anemia makrositik dan gangguan pembelahan sel. Diagram menunjukkan bahwa sel darah merah pada defisiensi folat membesar, berkembang tidak normal, dan sebagian gagal bertahan. Vitamin B12 membantu pembentukan sel baru serta fungsi saraf, sehingga vegan memerlukan pangan fortifikasi atau suplementasi. Vitamin B6 berperan dalam metabolisme asam amino dan pembentukan hemoglobin. Tembaga mendukung produksi hemoglobin melalui ceruloplasmin, tetapi absorpsinya dapat menurun akibat suplementasi vitamin C atau seng yang berlebihan.

Pada anemia neonatus terkait prematuritas, kecukupan besi, tembaga, kalsium, fosfor, magnesium, vitamin D, E, B12, dan folat perlu diperhatikan. Anemia hemolitik memerlukan vitamin E dan seng yang cukup serta penghindaran kelebihan besi. Anemia sel sabit membutuhkan energi dan protein berkualitas tinggi, omega-3, vitamin A, D, C, B kompleks, folat, dan seng. Talasemia memerlukan protein, folat, B12, dan seng, tetapi suplemen besi serta vitamin C sebaiknya dihindari karena risiko kelebihan besi. Pada malaria dan penyakit ginjal, pemberian besi harus disesuaikan dengan cadangan besi, penyakit penyerta, serta risiko klinis.

Gangguan perdarahan memerlukan protein, besi, folat, vitamin B12, tembaga, dan vitamin K yang cukup, sedangkan vitamin E dosis tinggi perlu dihindari. Pada polisitemia vera, asupan energi dan protein perlu dijaga dengan pemantauan suplementasi vitamin serta mineral. Trombositopenia membutuhkan diet yang dapat diterima pasien serta pemantauan folat dan vitamin K. Setelah splenektomi, kecukupan protein, energi, seng, vitamin A, dan vitamin C menjadi bagian penting dalam mendukung pemulihan dan imunitas.

yosephsamodra
Public health researcher, scholarship consultant, and black coffee drinker.