Status gizi tidak dapat dinilai akurat hanya dengan satu alat atau satu hasil pemeriksaan. Penilaian menyeluruh menggunakan pendekatan ABCD, yaitu antropometri, pemeriksaan biokimia dan hematologi, penilaian klinis-fisik, serta riwayat asupan makanan. Kondisi gizi juga dipengaruhi faktor genetik, metabolisme, fungsi organ, lingkungan, ketahanan pangan, ekonomi, sanitasi, dan pelayanan kesehatan. Karena itu, kebutuhan gizi harus dirancang berdasarkan kondisi individu dan interaksi antara penyakit dengan nutrisi.
Asupan makanan dapat dinilai melalui neraca pangan, survei pengeluaran rumah tangga, inventaris makanan, pencatatan menu, food record, kuesioner frekuensi makan, recall 24 jam, dan riwayat diet. Setiap metode memiliki cakupan berbeda, mulai dari tingkat negara hingga individu. Kebutuhan energi dapat diperkirakan sekitar 15–35 kkal/kg berat badan berdasarkan aktivitas serta tujuan menurunkan, mempertahankan, atau menaikkan berat badan. Persentase lemak tubuh sehat dalam materi adalah sekitar 12–20 persen pada pria dan 20–30 persen pada wanita. Perbedaan komposisi tubuh, usia, kehamilan, laktasi, dan penyakit turut mengubah kebutuhan energi.
Contoh menu harian menyediakan sekitar 1.850 kkal dari sasaran 2.000 kkal melalui kombinasi serealia utuh, susu rendah lemak, buah, sayuran, protein, dan minyak. Pola ini menyisakan sekitar 150 kkal yang dapat digunakan untuk makanan padat zat gizi atau tambahan lain. Karbohidrat dianjurkan menyumbang 45–65 persen energi dengan batas minimum sekitar 130 gram per hari bagi orang dewasa. Lemak sebaiknya menyediakan 20–35 persen energi, sedangkan protein sekitar 10–30 persen atau minimal 0,8 g/kg berat badan per hari. Gula tambahan, lemak jenuh, lemak trans, serta biji-bijian olahan perlu dibatasi.
Malnutrisi mencakup kekurangan gizi, kelebihan gizi, dan ketidakseimbangan zat gizi. Kekurangan pangan menyebabkan penyakit defisiensi, kelemahan, gangguan perkembangan, penurunan imunitas, dan peningkatan infeksi. Sebaliknya, kelebihan energi yang disertai aktivitas rendah, stres, merokok, atau konsumsi alkohol meningkatkan risiko obesitas, sindrom metabolik, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan kanker tertentu. Seseorang juga dapat mengalami kelebihan makronutrien sekaligus kekurangan mikronutrien. Kondisi tersebut membentuk beban ganda penyakit infeksi dan penyakit tidak menular.
Derajat malnutrisi dewasa dinilai antara lain berdasarkan indeks massa tubuh dan persentase penurunan berat badan dalam periode tertentu. Malnutrisi berat ditandai IMT tidak lebih dari 16 atau kehilangan sedikitnya 26 persen berat badan biasanya dalam enam bulan. Derajat sedang berkaitan dengan IMT 16–16,9 atau kehilangan 16–25 persen berat badan, sedangkan derajat ringan mencakup IMT 17–18,4 atau penurunan berat badan yang lebih kecil. Malnutrisi terkait penyakit juga mempertimbangkan albumin rendah, edema, keterlambatan penyembuhan luka, serta riwayat penyakit atau trauma. Penanganannya memerlukan pola makan seimbang yang menyesuaikan energi, protein, kondisi klinis, toleransi, dan kekurangan zat gizi spesifik.
Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat dapat menyediakan sekitar 60 persen energi dari lemak dan berisiko rendah vitamin, mineral, serat, serta tinggi lemak jenuh dan kolesterol. Diet lemak sedang sekitar 25 persen energi umumnya lebih seimbang jika mencakup semua kelompok makanan. Diet sangat rendah lemak dapat kekurangan vitamin E, seng, dan vitamin B12 jika konsumsi pangan hewani terlalu sedikit. Kebutuhan protein meningkat dari sekitar 0,8 g/kg pada kondisi normal menjadi 1,0–1,5 g/kg saat stres metabolik akibat sakit atau cedera. Gagal ginjal dan dialisis memerlukan penyesuaian protein khusus berdasarkan fungsi ginjal serta metode terapi.
Vitamin A mendukung penglihatan, epitel, pertumbuhan, imunitas, dan reproduksi, sedangkan kekurangannya dapat menyebabkan rabun senja dan kerusakan kornea. Vitamin D mengatur kalsium dan fosfor untuk tulang, dengan defisiensi yang menyebabkan rakitis atau osteomalasia. Vitamin E bekerja sebagai antioksidan membran, sementara vitamin K diperlukan untuk pembekuan darah dan pembentukan protein tulang. Vitamin B membantu metabolisme energi, pembentukan sel dan hemoglobin, serta fungsi saraf; kekurangannya dapat menyebabkan beri-beri, pellagra, anemia, gangguan neurologis, atau kelainan kulit. Vitamin C diperlukan untuk kolagen, penyembuhan luka, imunitas, dan penyerapan besi serta mencegah skorbut.
Grafik kapasitas antioksidan menempatkan apel Red Delicious dengan kulit sebagai nilai tertinggi, diikuti cokelat hitam, plum kering, anggur merah, dan artichoke rebus. Nilai tersebut berasal dari pengujian laboratorium dan dapat berubah menurut varietas, musim, penyimpanan, serta metode pemeriksaan. Kalsium dan fosfor penting bagi tulang, kontraksi otot, metabolisme energi, membran, dan sistem penyangga tubuh. Magnesium dan kalium mendukung kerja enzim, keseimbangan cairan, fungsi saraf, serta kontraksi otot dan jantung. Besi diperlukan untuk hemoglobin dan transportasi oksigen, sedangkan seng mendukung enzim, sintesis protein, imunitas, penyembuhan luka, pertumbuhan, dan reproduksi.