Gizi normal perlu disesuaikan dengan tahap kehidupan, kondisi tubuh, dan tingkat aktivitas. Pada masa kanak-kanak, kebutuhan energi total meningkat seiring pertumbuhan, tetapi kebutuhan energi dan protein per kilogram berat badan menurun dari masa bayi. Makanan yang beragam penting untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, dan terutama zat besi.
Kebiasaan makan anak dibentuk oleh keluarga dan lingkungan yang aman, bersih, serta mendukung pengaturan asupan secara mandiri. Masalah yang perlu diperhatikan meliputi kerawanan pangan, gizi kurang, stunting, berat badan berlebih, paparan timbal, serta pola makan vegetarian yang tidak terencana. Kafein dapat mengganggu tidur, sedangkan bukti hubungan gula dengan ADHD belum kuat.
Remaja mengalami percepatan pertumbuhan, perubahan komposisi tubuh, dan kebutuhan energi serta protein yang tinggi. Pilihan makanan mereka banyak dipengaruhi teman sebaya, faktor sosial, budaya, citra tubuh, dan kondisi psikologis. Risiko utama pada masa ini meliputi obesitas, gangguan makan, konsumsi rokok, alkohol, dan obat terlarang.
Pada dewasa dan lansia, kebutuhan kalori menurun karena berkurangnya massa bebas lemak dan aktivitas fisik. Namun, kebutuhan protein per kilogram berat badan serta vitamin dan mineral penting tetap perlu dipenuhi melalui makanan padat zat gizi. Perhatian khusus diberikan pada serat, cairan, vitamin D, vitamin B6, B12, folat, kalsium, seng, dan antioksidan.
Gizi yang baik meningkatkan performa atlet dengan membantu pembentukan otot, kesehatan tulang, transportasi oksigen, perbaikan jaringan, serta keseimbangan cairan dan elektrolit. Pola makan atlet sebaiknya seimbang dan beragam, dengan sekitar 55 sampai 65 persen energi berasal dari karbohidrat. Karbohidrat merupakan sumber energi utama otot dan disimpan sebagai glikogen untuk aktivitas intensitas tinggi.
Atlet yang berlatih berat memerlukan protein sekitar 1,0 sampai 1,8 gram per kilogram berat badan per hari, yang umumnya dapat dipenuhi dari makanan. Sebelum pertandingan, pilihan terbaik adalah makanan tinggi karbohidrat, mudah dicerna, dan dikonsumsi sekitar tiga sampai empat jam sebelumnya. Setelah latihan, cairan dan elektrolit perlu segera diganti, disertai karbohidrat dalam 30 menit pertama dan makanan berkarbohidrat dengan protein dalam dua jam berikutnya.
Hidrasi dilakukan sebelum, selama, dan setelah olahraga karena rasa haus bukan penanda yang cukup akurat. Tanda dehidrasi meliputi sakit kepala, lelah, mual, kebingungan, kram, pusing, serta penurunan stamina dan kekuatan. Suplemen perlu digunakan hati-hati karena manfaat, keamanan, dosis, dan mutunya tidak selalu jelas.
Malnutrisi adalah ketidakseimbangan antara asupan zat gizi dan kebutuhan tubuh. Penyebabnya dapat berupa penurunan asupan, peningkatan kebutuhan energi, atau gangguan penyerapan zat gizi. Dampaknya meliputi kehilangan kekuatan otot, penurunan mobilitas dan imunitas, infeksi, depresi, masa rawat lebih lama, serta penurunan kualitas hidup.
Malnutrisi akut berat pada anak dapat didiagnosis melalui berat badan menurut tinggi badan kurang dari minus tiga standar deviasi, lingkar lengan atas kurang dari 115 mm, atau edema bilateral. Tatalaksana dimulai dengan pencegahan dan penanganan hipoglikemia, hipotermia, dehidrasi, gangguan elektrolit, infeksi, serta defisiensi mikronutrien. Pemberian makan dilakukan secara hati-hati menggunakan F-75 pada fase stabilisasi, kemudian ditingkatkan menuju F-100 atau makanan terapeutik siap pakai pada fase rehabilitasi untuk mengejar pertumbuhan.