Skip to content

Peran Dokter dalam Pemberdayaan Keluarga

Pendekatan kesehatan berkembang dari pendekatan klinis yang berorientasi pada penyakit, menuju pendekatan kesehatan masyarakat, dan kemudian pendekatan keluarga. Keluarga merupakan unit terkecil masyarakat yang memiliki ikatan biologis dan sosial. Masalah kesehatan seorang anggota keluarga dapat memengaruhi anggota lainnya, sehingga keluarga menjadi sasaran strategis dalam pembangunan kesehatan.

Pemberdayaan masyarakat adalah upaya yang dilakukan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat. Tujuannya adalah menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat sesuai dengan masalah serta potensi setempat. Dalam konteks keluarga, dokter berperan sebagai pendamping dan fasilitator yang membantu keluarga menjadi lebih mandiri, bukan sekadar memberikan instruksi.

Pemberdayaan mengarahkan keluarga dari kondisi tidak berdaya menuju kemampuan untuk berperan aktif, terlibat, peduli, dan mengambil keputusan. Kemandirian keluarga mencakup kemampuan memenuhi kebutuhan materi, mengembangkan pengetahuan dan gagasan, serta merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan. Prinsip utamanya meliputi pengembangan kemampuan, partisipasi, gotong royong, kemitraan, dan penyerahan keputusan kepada keluarga serta masyarakat.

Proses pemberdayaan dilakukan melalui siklus pemecahan masalah. Tahapannya meliputi identifikasi masalah dan penyebab, perumusan beberapa alternatif solusi, penetapan dan pelaksanaan solusi, serta pemantauan dan evaluasi untuk menjaga keberlanjutan. Dokter membantu keluarga mengenali masalah fisik, biologis, psikologis, sosial ekonomi, dan sosial budaya, kemudian menggali potensi yang dapat digunakan untuk mengatasinya.

Potensi pemberdayaan dapat berasal dari sumber daya manusia, pendidikan, pekerjaan, hubungan keluarga, sarana, dana, pengetahuan, teknologi, dan perilaku keluarga. Masyarakat juga memiliki potensi melalui tokoh masyarakat, kader, organisasi, dana, fasilitas, serta sistem yang telah berkembang. Kader perlu dibina secara positif dan berkesinambungan karena dapat memperluas jangkauan program, meningkatkan partisipasi, mengembangkan pemimpin masyarakat, dan menyesuaikan kegiatan dengan kondisi lokal.

Persiapan sosial mencakup pengenalan masyarakat, pengenalan masalah, dan penyadaran masyarakat. Fasilitator perlu terbuka, mengenal masyarakat sebagaimana adanya, serta menghindari prasangka. Dalam diskusi, semua anggota perlu berpartisipasi, setiap pendapat dihargai, dan organisasi masyarakat dikelompokkan berdasarkan dukungan, penolakan, atau sikap netral terhadap program.

Dalam bidang kesehatan ibu dan anak, pemberdayaan bertujuan membangun sistem kesiagaan masyarakat untuk menghadapi keadaan darurat kehamilan dan persalinan. Sistem ini dapat mencakup transportasi, komunikasi, pendanaan, donor darah, pencatatan, pemantauan, informasi keluarga berencana, pendidikan kesehatan, serta peningkatan keterampilan kader dan penolong persalinan. Dokter juga mendorong keterlibatan laki-laki dan berbagai pemangku kepentingan agar masyarakat mampu membantu ibu dan anak secara lebih efektif.

Pemberdayaan keluarga juga penting dalam membangun Keluarga Sadar Gizi atau KADARZI. Keluarga berperan besar dalam mengambil keputusan tentang pangan, gizi, kesehatan, dan pemanfaatan sumber daya, sehingga perilaku keluarga perlu menjadi fokus perbaikan. Keluarga yang sadar gizi menerapkan Pedoman Gizi Seimbang, memastikan status gizi anggota keluarga baik, memberikan ASI eksklusif, menggunakan garam beryodium, memantau pertumbuhan balita, serta mampu mengenali dan memecahkan masalah gizi secara mandiri.

yosephsamodra
Public health researcher, scholarship consultant, and black coffee drinker.